Beranda / Berita

Kaum Milenial : Politik Bukan Hanya Urusan Orangtua

Ditulis Oleh: Putri Tanggal: 3 December 2018


KLOJEN – Kesadaran politik generasi milenial terus meningkat. Hal tersebut tampak dari antusiasme ratusan siswa SMK, SMA/MA, dan mahasiswa yang hadir dalam Sosialisasi Fasilitasi Pendidikan Politik bagi Generasi Muda yang digelar oleh Kesbangpol Kota Malang di Hotel Savana pada Senin (3/12).

Salah seorang peserta, Giacinta Gultom mengatakan anak muda mestinya tidak tabu membicarakan topik politik. Apalagi apatis bahkan golput pada saat Pemilu 2019. “Hilangkan anggapan yang menganggap politik itu topiknya orangtua, sulit dan susah. Kita anak muda juga harus memiliki kesadaran berpolitik,” tegas siswi SMA Negeri Taruna Nala Kota Malang tersebut.

Siswi berambut sepundak tersebut menyatakan dirinya saat ini sudah memiliki hak pilih dan terdaftar sebagai pemilih Pemilu 2019. Pada tanggal 17 April 2019 nanti, dirinya akan menggunakan hak pilih di TPS. “Kegiatan sosialisasi seperti ini sangat bermanfaat bagi kami. Pengetahuan kami soal Pemilu dan Politik menjadi bertambah, “ kata siswi berusia 18 tahun ini.

Acara yang digelar Bakesbangpol Kota Malang tersebut dihadiri oleh 400-an peserta yang berasal dari siswa-siswi SMK, SMA/MA, dan mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Kota Malang. Hadir sebagai Keynote Speaker adalah Sekda Kota Malang Wasto dan narasumber Deny R Bachtiar dari KPU Kota Malang serta Erna Maghfiroh dari Bawaslu Kota Malang.

Dalam kesempatan tersebut, Anggota KPU Kota Malang Deny R Bachtiar mengatakan pemilu merupakan sarana perwujudan kedaulatan rakyat, termasuk generasi milenial didalamnya. Karena itu, dia mengajak peserta untuk datang ke TPS pada 17 April 2019 mendatang. “Sudah tidak zaman lagi anak muda golput. Anak muda punya peran disini untuk memilih pemimpin lima tahun tahun mendatang, mulai dari tingkat daerah sampai tingkat pusat,” terang pria penikmat kopi ini.

Berdasarkan data KPU Kota Malang, jumlah pemilih untuk Pemilu 2019 di Kota Malang adalah 623.185 pemilih. Dari jumlah tersebut, sekitar 9,8% atau setara 61.000-an pemilih di Kota Malang adalah usia 17-21 tahun. “Suara negerasi milenial sangat penting,” tandas Deny.

Sementara itu, Plt Bakesbangpol Kota Malang Supriyadi mengatakan pendidikan politik kepada generasi milenial semestinya tak hanya dilakukan saat mendekati pemilu saja. Namun harus dilakukan secara berkelanjutan agar kaum muda memiliki kesadaran politik yang cukup. “Kami terus berupaya agar generasi muda tidak golput. Ini jalan untuk meningkatkan partisipasi pemilih,” kata dia.


(Putri)