Beranda / Berita

KPU KOTA MALANG MENGIKUTI OPEN CLASS PUSDIKLAT KEUANGAN UMUM BERTAJUK TRIK OPTIMASI INSTAGRAM SEBAGAI MEDIA BRANDING – OPEN CLASS PUSDIKLAT KEUANGAN UMUM BERSAMA GATHOT SUBROTO

Ditulis Oleh: ADMIN Tanggal: 30 July 2021


Pada Hari Jumat (30/07/2021) Pukul 09.00-11.00, KPU Kota Malang mengikuti open class bertajuk “Trik Optimisasi Instagram sebagai Media Branding” yang diadakan oleh Pusdiklat Keuangan Umum, dipandu oleh Astrid Nindia sebagai host, dan diisi oleh pemateri tunggal Gathot Subroto yang memaparkan bagaimana pemanfaatan Instagram sebagai salah satu media sosial.

Dalam penyampaiannya Gathot berfokus pada pada satu aplikasi saja yaitu Instagram. Ia mengakui kemajuan dan keniscayaan sosial media atau dunia maya. Demikian karena pada situasi saat ini masyarakat justru dituntut untuk berinteraksi melalui dunia maya atau sosial media. Lantas bagi Gathot salah satu platform sosial media yang memiliki interaksi dengan pengakses terbanyak dan kekinian adalah Instagram.

Gathot mengutarakan media sosial terutama Instagram ini dapat dimanfaatkan sebagai media branding. Mengingat fitur yang dimiliki oleh Instagram semakin hari semakin banyak dan variatif. Ini juga didorong dengan eksistensi instagram dan medianya yang aktif dalam distribusi visual dalam pengoperasiannya. Tercatat dari tahun 2012 hingga 2021 pengguna instagram di seluruh dunia sebanyak 1 milyar lebih. “Termasuk pula di Indonesia, pengguna instagram juga memiliki grafik yang sama seperti di seluruh dunia, yang mana menunjukkan grafik yang terus bertambah dari tahun ke tahun terutama didominasi oleh usia milenial. Sehingga Indonesia menjadi salah satu target pasar terbesar platform media sosial”, jelas Gathot.

Popularitas Instagram ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk kebutuhan yang baik, seperti halnya untuk keperluan branding. Popularitas dan inovasi branding melalui media sosial ini menjadi jalan terbarukan yang cukup membantu banyak kebutuhan komersial. Ini juga berpengaruh terhadap pembiayaan promosi suatu produk atau program pemerintah. Seperti halnya ketika adanya penyuluhan yang mengharuskan menyebar undangan secara konvensional akan terasa lebih mahal dan kurang efektif, bila dibandingkan melakukan pemasangan flyer atau poster di media sosial. Selain masalah anggaran, media sosial juga dapat menjangkau banyak orang. Sehingga dewasa kini bagi Gathot instansi pemerintah juga perlu memperhatikan kemajuan ini. Kemudahan yang ditawarkan Instagram ini menjadi cara yang murah untuk membranding suatu program atau kebijakan bahkan institusi itu sendiri.

Namun ini semua tidak terlepas dari tantangan yang ada. Tantangan ini muncul ketika semakin menjamurnya pengguna instagram dan banyaknya pihak yang mengunggah foto di platform ini sehingga tidak sedikit pula pengguna yang sering mengabaikan postingan yang mereka rasa tidak menarik atau kurang mencolok (tidak indah secara visual). “Maka perlu adanya keseriusan dan keinginan yang kuat untuk me-managed akun instagram kita”, tegas Gathot.

Gathot memaparkan ada dua hal penting yang perlu dipahami oleh pengguna instagram agar berhasil melakukan branding dengan baik, yakni hal dasar yang pertama adalah perlunya mengenali diri sendiri. Ketika seorang pengguna berhasil mengenali dirinya sendiri maka mereka akan mudah melakukan self-branding. Bagaimana branding tersebut dapat menjangkau banyak orang, maka harus disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan kekinian. Tidak hanya itu perlu pula seorang pengguna untuk melakukan rebranding atau redesign. Rebranding ini berkaitan dengan bagaimana kita memperhatikan konten yang akan kita unggah agar dapat menarik banyak minat dan tetap memantau insights akun itu sendiri. Apabila redesign adalah bagaimana seorang pengguna mengatur layout feed atau postingan instagram menjadi seragam.

Hal dasar yang kedua yang juga tidak kalah penting adalah mengetahui siapa market atau targetnya.


(ADMIN)